MSM Malaysia Holdings Berhad (MSM), salah satu 50 perusahaan teratas di Bursa Malaysia yang merupakan produsen gula rafinasi terbesar di Malaysia dan anak perusahaan Felda Global Ventures Holdings Berhad (FGV), saat ini sedang membidik Indonesia sebagai bagian dari rencana ekspansi pertumbuhan integral dalam jangka waktu empat hingga lima tahun ke depan.
Dengan sistem regulasi yang menguntungkan dan pasar yang menarik sebagai tujuan pemurnian, MSM menilai dengan memasuki sektor gula Indonesia sebagai investasi yang sehat dan strategi yang tepat untuk memperluas operasi gulanya secara internasional.
"Kami sangat senang dapat berinvestasi secara strategis di Indonesia karena pasarnya yang menjanjikan dan fakta bahwa Indonesia dipandang sebagai salah satu mesin pertumbuhan Asia, yang memberikan peluang besar untuk meraih visi jangka panjang kami," Ujar Dato' Sheikh Awab Sheikh Abod, Presiden dan CEO MSM Malaysia Holdings Berhad.
Ia juga menambahkan, "Investasi kami di Indonesia adalah salah satu dari sekian banyak, di mana ini akan membantu kami meraih peluang pertumbuhan di salah satu negara yang dianugerahi sumber daya alam yang berlimpah dan terbesar di dunia. Oleh sebab itu, ini juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang kuat, yang akan membuka lapangan pekerjaan dan peluang sumber lokal bagi perkeonomian lokal."
"Saat ini kami sedang dalam proses pembicaraan dengan beberapa perusahaan lokal namun kami juga tetap terbuka terhadap semua pilihan termasuk membangun pabrik baru untuk badan usaha milik pemerintah."
Rencana strategi MSM adalah untuk mengembangkan partisipasi rantai nilainya dengan membangun konfigurasi pabrik gula dan aset pemurnian di negara-negara dengan hasil panen yang stabil. Akuisisi dan/atau kolaborasi dengan perusahaan lokal akan melihat manfaat dari 50 tahun keahlian dan pengalaman dalam manajemen yang terampil.
Indonesia adalah pasar konsumen gula terbesar di Asia Tenggara dan salah satu dari 10 negara pengkonsumsi gula terbesar di dunia. Diperkirakan Indonesia mengkonsumsi lebih dari 5,5 juta ton gula setiap tahunnya dan konsumsi tersebut terus tumbuh dalam tiga tahun belakangan ini. Selain itu, Indonesia juga merupakan salah satu dari lima negara pengimpor gula terbesar di dunia dan pasar yang menarik bagi tujuan pemurnian.
Tahun 2015 akan menjadi tahun pertumbuhan bagi MSM. Sebagai perusahaan yang kuat secara finansial dengan saldo kas yang sehat, MSM siap meluncurkan rencana bisnis strategisnya untuk melakukan ekspansi global yang meliputi bisnis dari hulu dan hilir. Perusahaan optimis bahwa mereka berada di arah yang tepat untuk mengendalikan seluruh rantai pasokan bisnis gula mulai dari hulu hingga penyewaan kapal, pergudangan, perusahaan dagang dan kilang.
"Dengan dibukanya kantor dagang kami di Dubai pada Mei tahun ini, MSM akan terus memperkuat daya saingnya di pasar domestik dan ekspor. Selain Indonesia, kami juga sedang dalam proses menilai tiga kantor perwakilan di Tiongkok, India dan Thailand, dan semakin mendekatkan langkah kami pada tujuan untuk menjadi perusahaan dagang dan pemurnian gula premium se-Asia Tenggara," kata Dato' Sheikh Awab.
Saat ini, MSM memiliki dan mengoperasikan dua pabrik gula di Malaysia, yang berlokasi di Penang dan Perlis dengan kapasitas total produksi senilai 1,25 juta ton. Perusahaan berharap dapat meningkatkan produksi totalnya melalui rencana pembangunan pabrik yang akan berlokasi di Tanjung Langsat, Johor pada pertengahan 2017.
Pabrik di Tanjung Langsat dirancang dengan 2 lini produksi yang masing-masing berkapasitas 1 juta ton yang diharapkan akan meningkat hingga 4 juta ton pada 2020. Dengan ini, perusahaan berharap dapat mengendalikan seluruh pasar gula di Malaysia dan Singapura pada 2018.
MSM sangat optimis dengan investasi ini karena nantinya ini akan semakin memperkuat daya saingnya di pasar domestik dan ekspor, dan semakin dekat untuk mewujudkan tujuannya menjadi posisi tiga teratas pemain dalam industri gula di ASEAN dan posisi 10 teratas pemain dalam industri gula dunia.

